You are currently browsing the category archive for the 'Poetry' category.

Sajak Linda Christanty

Di Conakry, yang menyelinap dalam tidurmu
adalah cemburu untuk siapa yang tiada kau kenal
mungkin debu, udara panas,
atau kesepian yang lengket seperti jangat

Jakarta, 11 Februari 2008

(Buat Puto)

Sajak Linda Christanty

Seorang kanak-kanak menatap lereng Matebian
mencari kebenaran
dalam bisik pohon hali, deru angin, dan lenguh hantu
sapi-sapi
di bawah sana
Di dalam benak kecilnya bersemayam aliran sungai
kesunyian
dari penantian berabad-abad
Sesekali, samar-samar, dan diliputi mendung yang
gemetar
wajah ayah, ibu, dan saudara-saudaranya terbit dari
dunia tak dikenal,
jauh, dan lambat-laun
sirna

Ia telah menempuh ribuan mil perjalanan,
hutan dan lorong-lorong kota
mengendap di tengah malam dan rasa lapar
tapi gerbang kemenangan itu belum juga sampai gemerlap
cahayanya
Ia tiada pernah takut pada kesendirian
Bukankah dengan membaca doa Tuhan akan menemani?
Malaikat mencintai kanak-kanak

Setelah mendung dan angin yang gersang menjaganya
seperti memelihara rumput dan gurun
Suatu hari ia melihat orang-orang datang dari Los
Palos, Baucau, dan Ailiu
dan lelaki yang memiliki sepasang mata lembut itu
memberinya sepucuk senjata
lalu berkata
“Sekarang kau sudah dewasa.”

Seorang kanak-kanak kini tiada lagi merenungi Matebian
Ia berlari menghindari maut,
merebut lereng-lereng gunung
yang dikepung musuh siang itu,
mempertahankan garis terakhir
sebelum kilatan api membakar jantungnya

September 1999

* Dipublikasikan di Jurnal ON/OFF media orang biasa (Yogyakarta) No. 6, 2002.

Sajak Linda Christanty

Malam itu dengan sebotol San Miquel
dan perasaan sepi pada jendela-jendela bercahaya,
kau berkata,”Ini sama sekali tak mirip Jakarta.”
Orang-orang bercengkerama di atas bangku kayu,
menunjuk langit bulan Juni yang kehilangan mendung,
mengunyah pasta atau chicken steak,
calamaris atau kari,
tapi, kita terhenyak menatap musim yang bakal lewat
dalam jerit saksofon yang memucat

“Aku ingin kita menjadi tua bersama,” kataku
Kau terdiam, lalu tertawa, ”Itu lebih buruk dari
Jakarta.”
Kita tak lagi tahu di mana mimpi dimulai dan waktu
terjaga

Katamu, aku harus mencoba anggur dengan tegukan besar,

tapi aku lebih suka mariyuana

Malam itu setelah hingar sepi yang ganjil
kita melompat ke dalam gelas-gelas jus tomat
berubah menjadi rasa asam
yang kekal

Jakarta, Juni 2002

* Dipublikasikan di Jurnal ON/OFF media orang biasa (Yogyakarta) No. 6, 2002.